fotosintesis

ini loh, video ttg fotosintesis

Iklan

Leave a comment »

media pembelajaran kreatif

Cara menggunakan media pembelajaran berupa video……

Leave a comment »

Balada di atas Perahu

Pagi ini saya harap-harap senang, dari kejauhan belum tampak muncul yang namanya body (perahu mesin) ataupun perahu dayung. Kali ini saya sedang berada di ujung hutan bakau, dipinggiran sungai yang ujungnya lebih kurang 2 kilo ke depan arah laut. Tadi malam persisnya sore kemaren saya baru pulang dari kota untuk mengerjakan suatu hal yang berhubungan dengan tugas administrasi selaku relawan guru Sekolah Guru Indonesia. Karena kemalaman, saya tidak menemui ojek motor, jadi dari perkampungan terdekat, saya berjalan sekitar 2 kilo ketika magrib menjelang. Sesampainya di pinggir hutan bakau, karena spot disini tidak ada sinyal dan tidak ada teman di laut yang bisa dihubungi, maka saya menumpang di salah satu rumah kakek tua yang ada di pinggir sungai. “AMBOk”, begitulah sapaan akrab kakek tersebut. Ketika terdengar suara telapak kaki saya dirumah panggungnya yang terbuat dari kayu, lantas iya menyahut “siapa tu nak, silahkan masuk, mau turun ke laut kah ?”. Saya pun menjawab “iya mbok, saya mau turun, tapi sepertinya nggak ada perahu ni, saya numpang bermalam ya, besok bersama pengambil air, saya numpang ikut”. Dengan keramahan beliau, maka malam itu saya numpang istirahat di rumahnya, membantu beliau masak, dan minum kopi bersama.
-pagi itu
Sembari menghangatkan tubuh dengan membakar sisa-sisa penebangan kayu oleh warga, selang satu jam berlalu, dari kejauhan kelihatan seorang nenek tua yang sedang asik mendayung dengan membawa sebuah termos, atau wajan. Dari bentuknya sepertinya termos tersebut untuk barang jualan. Sesampainya di pinggir sungai, tempat saya berdiam diri, nenek tersebut menyahut “mau ke pulau pak guru?, kalau begitu, naik mi ke atas perahu saya, saya lagi menunggu buk Siti dari darat yang mengantarkan es”. Dengan wajah sumringah, dan haripun masih jam 6.30 pagi, saya menerima tawaran tersebut. Saya akhirnya bisa cepat pulang, dan siangnya bisa mengajar siswa. Yang diragukan kalau biasanya saya terlambat menyeberang adalah, terlambat masuk kelas, jadi kasihan murid-muridnya.

Setelah menunggu dan selesai urusannya deng bu Siti, saya dan nenek inipun melanjutkan perjalanan d atas perahu menuju lautan, tempat perkampungan Bajo, dimana saya bertugas. Diatas perahu ini, saya banyak bercerita dengan nenek tersebut, belajar keseriusan, ketangguhan, dan semangat bertahan. Walau di umur yang sudah senja, nenek ini tidak mau membebankan anaknya atau minta dirawat oleh anaknya, iya masih bisa mandiri, walau hanya sekedar berjualan es yang biasa menjadi cemilan anak-anak dan warga bajo. Dikarenakan sekarang lagi musim kering, jadi nenek ini memanfaatkan peluang dengan berjualan es, baik yang berupa cemilan, maupun es batu. Dari momen satu jam di atas perahu tersebut, saya seperti me-recharge kembali semangat yang mungkin belakangan gak stabil. Meluruskan niat dan tujuan, untuk sedikit berbagi bersama mereka, anak-anak Bajo, ANAK-ANAK INDONESIA. #salamPendidikan#sekolah_guru_Indonesia 🙂

Comments (4) »

pelajaran hari ini: pemantapan dalam planning, kenali medan & managemen waktu

Hari ini cukup melelahkan dan juga menyenangkan bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, hari-hari yang saya lalui disini dari beberapa bulan yang lalu hingga sampai 9 bulan mendatang ibarat seperti berlibur dan bertualang. Walaupun pada hakikatnya saya hari ini lagi menjalankan tugas, tapi setelah saya fikir-fikir, saya terlalu dan sangat menikmati segala aktifitas disini, mulai dari mengajar anak-anak pulau, mengisi acara di radio, membuka link ke berbagai instansi dan media, serta bersosialisasi dengan masyarakat. Jadi karena alasan yang menyenangkan tersebutlah saya seakan pergi berlibur dan bertualang selama setahun, gak ada yang salah kan, hehe :D.

Selama saya disini, boleh dikatakan hampir tiap minggu saya dan bersama anggota team bepergian. Bepergian disini maksudnya meninggalkan lokasi penempatan tugas menuju ke kota dan berbagai daerah yang ada di kabupaten ini. Tak obah seperti sekumpulan orang yang berpetualang dan backpackeran, tas saya isinya saya jamin selalu lebih dari 3 kilo. Sesuai dengan kebutuhan untuk bepergian 2-3 hari. Berisi Laptop dan segala perkakas pribadi, botol minuman dan juga beberapa buku bacaan. Fiuuuh!!! Pegal dan capek juga memang, tapi seperti yang saya katakan di awal. Saya begitu menikmatinya, mau apa :v.

Nah pemirsah !!, ada hal yang lucu dan jadi pelajaran bagi saya hari ini. Eitss, sebentar, bukan hari ini saja deh sepertinya, tapi dari dulu juga udah keseringan. Kebiasaan saya  bepergian yang adakalanya belum matang dalam persiapan dan sering tergesa-gesa. Ceritanya seperti ini : tadi siang di ibukota kabupaten hujan begitu sangat deras. Sementara saya sudah deal bernegosiasi dengan teman satu team, bahwasanya karena cuaca yang kurang mendukung, ditambah dianya perempuan, maka saya mendapat giliran membawa motor, dan teman saya tersebut pulang menggunakan angkot.

Usut punya cerita, saya yang sering menunda-nunda pekerjaan, seharusnya sudah meninggalkan kota semenjak selesai shalat zuhur, namun entah suatu sebab apa dan itu tidak begitu penting, maka saya berangkat ke lokasi penempatan dari kota ketika sudah masuk waktu ashar. Saya lupa, kalau kondisi cuaca sekarang lagi kurang bagus ditambah saya pulang dengan motor sambil membawa barang banyak dan medan yang ditempuh juga tidak bersahabat.

Alhasil, saya menghabiskan perjalanan hampir 2,5 jam, yang mana bisa diatasai dengan waktu 1,5 jam. Itu akibat dari kebiasaan lama yang suka menunda atau menyepelekan hal penting, yang kedua kurang matang dalam persiapan, dan yang ketiga, pengenalan medan yang butuh diupgrade lagi.

Ujung dari perjalanan hari ini adalah, saya sampai di ujung daratan sebelum menyebrang ke pulau sudah masuk malam, sekitar jam 7. Cukup horror pemirsah, horror bukan saya takutkan akan gelap atau berada di tempat sepi dipinggir hutan, tapi yang saya takutkan adalah serangan dari kumpulan nyamuk-nyamuk rawa di perairan bakau di ujung daratan sebelum saya menyebrang ke pulau tempat saya ditempatkan. Nyamuknya memiliki sengatan level tinggi, ibarat nada suara, levelnya udah mencapai 7 oktaf :v .Kapok deh sama t nyamuk.

Nah, nah, nah, cukup berkesan dan jadi pelajaran kedepannya, bahwa: dalam bepergian, kita mesti mantap dalam persiapan, kenali medan, dan manage waktu dengan baik.

Satu lagi : akibat tidak menyimpan nomor-nomor penting teman yang mau menjemput dengan perahu dan juga keterlambatan turun kelaut, saya jadinya mendayung sampan bersama abang dan sahabat saya yang ada disini selama setengah jam, fiuh. Capek, tapi tetap seru, haha..

Selamat backpackeran!!!

March,3rd/14

                     

Leave a comment »

“De Lao Denakangku (Lautan adalah Saudaraku)”

Gambar

Kalau ditanya kepada seorang presiden, apa yang telah iya lakukan selama 100 hari kepemimpinannya memimpin sebuah negara, tentu akan muncul puluhan atau ratusan jabawan dari masa tugas selama 100 hari tersebut. Adakalanya seorang presiden menjawab dengan merapikan kabinet dan mengatur formasi para mentri di setiap kementrian yang dibawahnya, atau berbagai agenda padat lainnya. Beda dengan kisahku kali ini, mungkin apa yang ku lakukan ini tidak seberapa, tapi mudah-mudahan bisa membawa perubahan terhadap anak-anak di pelosok sana, tentunya tetap dengan terus memperbaharui niat yang ada di dalam hati ini. Lebih kurang 100 hari yang lalu, beberapa teman-temanku sangat menanti pertemuan untuk mengetahui akan dimana mereka ditempatkan. Ya itulah kami, 30 orang rombongan calon guru Model Sekolah Guru Indonesia (www.sekolahguruindonesia.net) siap untuk diterbangkan ke berbagai pelosok negeri Indonesia ini. Teng teng teng, jlebb, dengan suasana yg datar, ternyata muncul namaku yang pertama dengan amanah memimpin team untuk diterbangkan ke Sulawesi Tenggara, dengan dua formasi daerah, kabupaten Muna dan Wakatobi. Memang tidak kebayang sebelumnya, namun berbekal pelatihan dan kesiapan fisik dan mental, tentunya kami semua termasuk aku juga siap untuk diterbangkan, ibarat anak busur yang ada di ujung busur panah, siap melaju dan bertugas mengabdi di pelosok negeri.

Gambar

100 hari yang lalu, adalah waktu yang sebentar, tapi begitu bermakna, masih akan menyusul 9 purnama lagi InsyaAllah. Namun sebelumnya, izinkan ku perkenalkan teman-teman ini guys, dari kiri-kanan ada niken dr Malang, Al’an dari Sumbawa, Heny dari Medan, Feny dari Palembang, dan Huda dari Padang. Huda, Niken dan Al’an posisi mereka di kab. Wakatobi, lalu aku bersama Feny dan Heny ada di kab. Muna. Lebih jelasnya lihat di peta Sulawesi Tenggara ya temans :D. Niatku sedari awal bergabung dalam lembaga ini memang satu saja, mau sedikit berkontribusi untuk pendidikan anak-anak negeri (terlalu muluk memang, namun itulah sensasinya), semoga apa yang ku lakukan bersama teman-teman diberkahi dan cukuplah Allah yang menghakimi apa yang ada di hati-hati kami.

Sesampainya disini, sebuah tempat yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, yaitu desa Bangko, yang terletak di pulau Bangko kec. Maginti, kab. Muna. Disebut pulau kupikir sama dengan pulau yang kebanyakan, namun setelah dilihat, wow “amazing” dalam hatiku berkata. Aku mendapatkan sebuah perumahan terapung diatas laut yang dihuni oleh lebih dari 1400 orang penduduk suku Laut (Suku Bajo). Nah itulah yang mereka sebut pulau. Disini aku mendapatkan hal yang unik, sebuah kawasan rumah-rumah yang tersusun rapi yang berada ditengah laut, terpisah dari daratan, disana tiada tanah (kecuali kalau air laut surut), tiada tanaman, tiada rumah dari batu, “actually” yang ada adalah susunan rumah-rumah yang berdiri di atas tiang kayu yang kokoh, yang ketinggian tiangnya saja bisa mencapai 5 meter dari tanah. Antara lorong perumahan satu dan yang lainnya dihubungkan oleh jembatan yang terbuat rapi, asri dan unik.

Gambar

Ditempat ini, aku bertemu dengan penduduk suku laut yang cukup terkenal di negara Maritim ini, yaitu Suku Bajo. Suku Bajo asal usulnya merupakan suku dari sekelompok nelayan yang memang tinggal diatas rumah-rumah kecil yang berada diatas perahu, namun karena kebutuhan mereka akan melaut, maka dibuatlah rumah-rumah yang benar-benar berada di tengah laut dan tertancap dengan bantuan kayu-kayu yang kokoh. Aku baru tahu, kalau ternyata suku ini memang awalnya berasal dari daerah Sulawesi ini, tetapi lambat laun dan sampai sa’at ini suku Bajo telah tersebar diberbagai kepulauan yang ada di Nusantara bahkan juga ada di luar negeri seperti Filipina, Australia, Malaysia, Thailand, dan beberapa negara lainnya. Suku ini umumnya tinggal di pesisir pulau, namun tetap berada di laut dan terpisah dari daratan. Mata pencaharian mereka tentunya adalah sebagai nelayan, apakah itu menangkap ikan, kepiting, atau budidaya rumput laut. Kalau berbicara kebiasaan sehari-hari dan adat istiadatnya, mungkin cukup panjang kalau diceritakan :D.

“De Lao Denakangku (Lautan adalah Saudaraku)”,adalah semboyan bagi masyarakat Bajo dimanapun berada. Falsafah ini dipegang teguh oleh suku Bajo sudah turun temurun. Kalimat tersebut memiliki makna yang dalam dan menyentuh seluruh sisi kehidupan mereka. Disini aku belajar banyak hal dari mereka, belajar tentang menjaga alam, tentang kekeluargaan, tentang pengorbanan, tentang sikap saling menghormati semua kalangan, dan berbagai makna kehidupan serta kearifan lokal yang lainnya yang aku dapatkan. Cukup senang berada di tempat ini, setelah lebih kurang 100 hari menginjakkan kaki disini. Cukup senang mengajar anak-anak dan belajar dari anak-anak pulau ini. Walaupun jauh dari keluarga, tapi aku mendapatkan keluarga juga disini. Aku percaya pada janji Allah, ketika kita menebar kebaikan, maka InsyaAllah kebaikan juga yang akan kita dapatkan. Kangen rumah dan kampung halaman, tentu, namun disini juga telah menjadi kampung tempat bermain dan tempat belajarku. Belajar dari alam, belajar dari murid-muridku, belajar dari masyarakat, dan belajar dari keadaan tentunya. Yang pasti, selama masih ada kekuatan dan kesempatan, disana kutetap berusaha melakukan yang terbaik, masalah penilaian dan ukuran, cukup samaNYA sajalah kuberikan. Semua kita berharap, pendidikan Indonesia bisa lebih baik, dan semua anak-anak mendapatkan haknya, begitupun anak-anak disini, mereka menginginkan yang terbaik dan haknya mereka untuk belajar. Semoga!!!!. Salam cinta dari anak-anak suku laut 🙂 🙂 .

Gambar

Comments (2) »

“Proyek Besar” Pendidikan Indonesia Tahun 2014

Gambar

Jika membahas permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia memang tidak ada habis-habisnya. Baru saja kita melewati tahun 2013 dan sekarang berada di hari baru, bulan baru , dan di tahun baru 2014. Namun pergantian tahun tersebut, apakah sejalan dengan perbaikan pendidikan yang ada di Negara Indonesia ini, baik atau buruknya bisa kita lihat sendiri lewat berbagai media yang ada, apakah surat kabar, televisi, radio, dan lainnya. Begitu banyaknya persoalan dan pekerjaan rumah tentang pendidikan yang ada, mesti ditindak lanjuti segera dan secara bersama, baik itu pemerintah, pihak sekolah, orang tua murid, dan berbagai elemen lainnya seperti Lsm dan masyarakat pada umumnya. Refleksi setahun kebelakang setidaknya menjadi evaluasi dan menghasilkan solusi dalam mengambil tindakan untuk perbaikan pendidikan kedepannya. Jangan sampai hal negatif atau permasalahan dalam kancah pendidikan di tahun sebelumnya terulang lagi di tahun sekarang, atau yang lebih parahnya menambah jumlah persoalan-persoalan pendidikan yang ada.

            Evaluasi yang berkesinabungan mesti dilakukan untuk mengawal jalannya pendidikan yang ada di negara ini. Untuk melakukan hal tersebut, mesti sejalan apa yang dilakukan oleh pihak pemerintah baik itu lembaga eksekutif maupun legislatif selaku pengambil kebijakan, dengan pelaksana pendidikan itu sendiri yang berada di level bawah, baik itu perguruan tinggi, sekolah menengah, sekolah lanjut, sampai level sekolah dasar maupun taman kanak-kanak. Kalau kita lihat kebelakang, barangkali banyak persoalan yang tidak sejalan antara hal yang diputuskan di tataran pengambil kebijakan dengan apa yang di dapati dilapangan yang dalam hal ini yang menjalankan kebijakan. Sebagai bahan acuan, bisa kita lirik sekilas terkait permasalahan pada level pendidikan rendah atau sekoah dasar dan sekolah tingkat lanjut. Misalnya 2 contoh kasus yang hangat menjadi perbincangan dimana-mana yaitu megenai kurikulum pendidikan 2013 dan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

            Dua contoh kasus tersebut merupakan bagian dari permasalahan pendidikan yang mesti kita evaluasi, apakah sebagian, secara menyeluruh, maupun tidak sama sekali. Yang pertama, kalau kita berbicara tentang kurikulum, hampir dalam 1 dekade terakhir, banyak terjadi pergantian kurikulum. Apakah ini terjadi begitu saja, sudah didalam jalurnya, ataukah memang tuntutan perkembangan pendidikan itu sendiri. Bagi sebagian pelaksana pendidikan yang dalam hal ini tenaga pengajar (guru), perubahan kurikulum yang sering diluncurkan oleh pemerintah malah mempersulit mereka dalam menjalankan program pembelajaran. Karena bisa jadi apa yang tertera dalam kurikulum, dengan fenomena yang terjadi dilapangan serta kesiapan untuk melaksanakan kurikulum itu sendiri masih rendah, terutama di daerah daerah pelosok, yang masih banyak kekurangan, baik itu kekurangan akses informasi, akses transportasi dan telekomunikasi, maupun kekurangan tenaga pengajar itu sendiri. Namun, jika kurikulum ini dilaksanakan di sekolah-sekolah yang sudah serba lengkap fasilitas, serta tenaga pengajar, seperti di kota-kota besar, tentunya tidak ada permasalahan. Tinggal melaksanakan dan menyempurnakan pelaksanaan kurikulum itu sendiri.

            Selain kurikulum, permasalahan yang cukup hangat juga diperbincangkan di ranah pendidikan adalah dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) . Secara umum, program yang dicanangkan oleh pemerintah ini tentunya sangat membantu, karena untuk bersekolah, siswa tidak peluh membayar lagi atau dengan kata lain digratiskan. Dalam hal ini, asal siswa ada kemauan, tentunya ada jalan untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah, terutama bangku sekolah dasar dan sekolah tingkat lanjut. Namun, permasalahan yang banyak terjadi dilapangan adalah masih banyaknya terjadi praktek-praktek nakal yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti masih banyaknya terjadi pungutan-pungutan liar terhadap para siswa, yang mana hal itu tidak diperbolehkan, tetapi tetap saja dilakukan. Bahkan ada juga sekolah yang sudah menerima dana BOS, tetapi dikorupsi atau digunakan tidak pada tempatnya. Tentunya apa yang dilakukan tersebut tidak seseuai dengan norma yang berlaku dan mencemari citra pendidikan itu sendiri.

            Dari dua contoh permasalahan pendidikan tersebut, tentunya kita dapat melihat, apa tindak lanjut yang mesti dilakukan. Tentunya masih banyak permasalahan lain pendidikan yang menimpa Indonesia saat ini. Namun dari dua contoh tersebut setidaknya semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan ini mesti segera berbenah. Baik melakukan pembenahan ditataran pengambil kebijakan, maupun  berbenah ditataran pelaksana kebijakan itu sendiri. Tahun 2014 tentunya momen yang sangat penting. Semua orang tahu bahwasanya tahun ini adalah tahun politik, dimana akan diadakannya pemilihan presiden dan anggota legislatif untuk menjalankan roda pemerintahan untuk lima tahun berikutnya. Hal yang sangat strategis juga tentunya untuk melakukan perubahan di segala bidang, termasuk melakukan perubahan besar diranah pendidikan. Sejauh ini boleh dikatakan, apa yang dilakukan pemerintah sudah banyak  mengalami perkembangan yang berarti, seperti memberikan bantuan sekolah, meningkatkan kesejahteraan guru, meluncurkan kurikulum yang sejalan dengan kebutuhan terkini. Namun tentunya setiap kebijakan harus tetap dievaluasi dan dikontrol pelaksanaannya dilapangan. Bisa jadi dengan melakukan beberapa hal, seperti ; mengawal anggaran pendidikan dari level atas sampai level bawah, yang kedua mengeluarkan aturan-aturan untuk mengawasi dan sebagai fungsi kontrol dalam pelaksanaan pendidikan itu sendiri, dan yang terakhir yaitu mengadakan pengawasan serta pendampingan terhadap sekolah-sekolah dalam menjalalankan kurikulum yang telah diluncurkan. Dengan demikian, tentunya bisa terjadi kesinabungan dan sinergisitas yang baik disemua elemen pelaksana pendidikan itu sendiri. Sehingga pendidikan Indonesia diharapkan mengalami peningkatan dan perkembangan dari tahun ke tahun.

 

Rizki Ikhwan
(Pemerhati Pendidikan dan Aktifis Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa  angkatan V, Penempatan Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara)

*published@Buton Pos, Jan,24th 2014

Gambar

 

Comments (2) »

Ibu Merupakan “Laboratorium” Pendidikan Anak dalam Keluarga

Gambar

 

Ketika ada seseorang dalam suatu kelompok masyarakat, yang memiliki prestasi, keberhasilan, maupun nama baik, maka tidak jarang kita mendengar orang akan menanyakan anak siapa dia, siapa ayahnya, atau siapa ibunya. Keberhasilan seorang anak tentunya erat kaitannya dengan pendidikan, baik itu pendidikan formal lewat jalur sekolah, maupun pendidikan non-formal, seperti  belajar lepas (oto-didak) tanpa duduk dibangku sekolah dan juga lewat pengalaman. Yang pasti, dasar pendidikan dari seorang anak berawal dari sebuah keluarga. Tanpa melewati semua proses yang ada dalam sebuah keluarga, sulit rasanya seorang anak mampu secara personal untuk berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya. Sejatinya, proses awal seorang anak mendapatkan pendidikan tentunya bersama ibunya, yang telah membesarkannya. Mulai sejak anak tersebut masih bayi, bahkan sejak dalam kandungan, seorang ibu sudah mulai menanamkan pendidikan maupun pengetahuan kepada si anak, dengan berbagai metode atau rangsangan untuk menstimulus otak calon anak yang ada dalam rahim, seperti : mendengarkan musik klasik, kutipan-kutipan motivasi, dan sebagainya. Tanpa mengurangi peran sang ayah, tentunya kalau kita persentasekan, peran ibu lebih mendominasi terhadap perkembangan pendidikan anak, sebab seorang ayah cenderung lebih banyak waktunya habis bekerja diluar dan mencarikan biaya pendidikan untuk sang anak, sementara di sisi lain sang ibu lebih kepada pengawasan perkembangan pendidikan anak itu sendiri. Namun dalam hal ini, sinergisitas dan membagi pola asuh dan kebutuhan materi memang mesti diselaraskan. Agar perhatian ayah dan ibu terhadap anak bisa diberikan dengan maksimal.

            Terlepas dari dari tugas seorang ibu untuk mengurus rumah dan suami dalam sebuah rumah tangga, setiap ibu tentunya wajib memberikan pendidikan dasar kepada anaknya dalam rumah tangga. Dalam memberikan pendidikan kepada anak, seorang ibu memiliki beberapa peran penting, yaitu: yang  pertama, peran ibu sebagai pengajar, kedua, peran ibu sebagai pendamping, dan yang ketiga, peran ibu sebagai pengasuh. Sebagai pengajar, seorang ibu mesti mampu dan juga paham terkait ilmu-ilmu dasar yang diperoleh oleh anak dibangku sekolah, biar nantinya ketika ada urusan pelajaran sekolah anak yang tidak mereka pahami, ibu dapat memberikan pencerahan dan masukan kepada anaknya.

Untuk mengupayakan hal ini, seorang ibu sudah barang tentu harus memiliki latar pendidikan yang cukup, sehingga nantinya bisa membantu anaknya, setidaknya memiliki latar pendidikan sampai tingkat lanjut maupun sekolah menengah. Kalau era 70-80an bolehlah
kalangan ibu atau perempuan banyak yang tidak selesai bersekolah atau lebih memilih cepat bekeluarga dengan seorang laki-laki yang mapan atau sudah bekerja. Tapi untuk zaman sekarang, perempuan, atau yang mau menjadi kaum ibu kelak, setidaknya bisa menamatkan bangku SMA atau bahkan juga berkuliah, karena akses pendidikan sudah mudah didapat. Agar kedepannya, ibu yang menjadi penopang pendidikan anak didalam sebuah keluarga, juga memiliki bekal yang mumpuni untuk mengajar anak-anaknya di rumah.

Yang kedua, peran ibu di dalam hal pendidikan anak dalam sebuah keluarga adalah sebagai pendamping. Pendamping disini adalah lebih difokuskan kepada pengawasan dan kontrol yang lebih terhadap perkembangan pendidikan atau pelajaran yang diterima oleh sang anak dari guru di sekolahnya. Seorang ibu jangan hanya menyerahkan anak ke sekolah untuk mendapat ilmu, selanjutnya berpangku tangan dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada sekolah. Tetapi juga harus mendampingi anak di rumah, menanyakan sejauh mana pelajaran yang sudah dipahami oleh anak. Selain itu, seorang ibu juga mesti mendengar keluh kesah anak ketika mereka menemukan kesulitan dalam belajar. Supaya sang ibu bisa menjadi problem solver dalam menangani permasalahan anak. Atau dalam hal lain, sang ibu juga bisa mengkomunikasikan hal tersebut kepada pihak sekolah atau guru. Sehingga dengan sikap yang diambil, tentunya akan terbangun sinergitas yang baik antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi maupun mengawasi kemampuan dan tingkat pemahaman anak dalam mencerna pelajaran.

Yang ketiga, peran orang tua dalam hal pendidikan anak adalah sebagai pengasuh. Pengasuh lebih kepada pola mendidik dan mengarahkan anak supaya lebih baik. Pendidikan tersebut tentunya sedikit berbeda dengan apa yang diterima oleh anak ketika menduduki bangku sekolah. Pendidikan yang ditanamkan di rumah lebih kepada aspek pendidikan karakter dan sikap, disamping tentunya seorang ibu mendampingi dan membantu mengarahkan pelajaran yang telah didapatkan anaknya di sekolah. Dalam sebuah pepatah menyebutkan “buah yang jatuh, tidak akan jauh dari pohonnya”. Artinya,  jika kita analogikan dengan pola asuh dan pendidikan yang diberikan kepada anak, pada dasarnya hal tersebut dapat mencerminkan siapa ibu maupun orang tuanya. Tepatnya kita bisa bahasakan sebagai sebuah keteladanan. Ibu yang baik belum tentu anaknya juga baik, tergantung bagaimana seorang ibu mampu secara penuh memberikan keteladanan yang baik kepada si anak dengan memberikan pelajaran dan pendidikan karakter di rumah tangga.

Raha, 22 Desember 2013

 

Rizki Ikhwan
(Pemerhati Pendidikan dan Aktifis Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa  angkatan V, Penempatan Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara)

 

* Ibu merupakan “Madrasah” pendidikan anak dalam sebuah keluarga. Jadi berbanggalah kaum Ibu, karena di tangan merekalah kelak anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang berguna bagi masa depan keluarga, agama , bangsa dan negara

# Tulisan ini didedikasikan buat para ibu-ibu tangguh yang sudah, sedang dan akan berjuang untuk membesarkan dan mendidik serta memberikan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya

#Happy Mother’s Day, teruslah BERJUANG wahai kaum Ibu ^_^

 

Published : Dec,28th 2013 @Buton_Pos hal 7


Gambar

Comments (4) »